Apa Motivasi Terbesarmu Saat Ini?
“Aku akan mencetak gambar Suzuki Swift ini, dan menempelnya di dinding, persis dihadapanku ketika aku bangun setiap harinya”, ujar seorang teman. Kemudian dia begitu termotivasi dengan sang Swift Merah itu, sehingga dia begitu semangat dan tahan online berjam-jam mengurusi bisnis DropShippingnya.

Mobil, motor harley, motor sport, rumah, kamera digital, target nikah, sampai ingin membiayai orang tua naik haji, adalah motivasi yang populer terdengar diantara teman-teman bisnis online saya. Motivasi, sebuah hal yang mendasari kita melakukan sesuatu. Semakin kuat dorongan motivasi itu, semakin kuat kita ingin meraihnya, dan semakin kuat effort kita untuk mewujudkannya.
Saya juga mempunyai motivasi pribadi seperti mereka, entah itu City Car atau Mitsubishi Strada Triton, atau juga sebuah motorsport idaman saya. Tidak butuh waktu lama lagi bagi saya untuk mendapatkan sebuah Swift atau Sirion, bahkan jika sebuah motorsport kelas menengah, malam ini saya pergi sudah bisa membawanya pulang.
Namun sejak awal tahun ini motivasi terbesar saya telah berubah. Ketika mendapati sesosok tua, dengan wajah lemah namun membekas guratan-guratan perjuangan masa lalu, terbaring tak berdaya karena sakit stroke dan diabetes. Dialah Bapak saya, orang yang telah membesarkan saya dan ketiga saudara saya dengan penuh kasih dan tulus.
Saya bisa seperti sekarang ini, adalah karena semua pengorbanannya, semua kerja kerasnya, berdua dengan Ibu saya tanpa pamrih atas nama kasih sayang, membesarkan kami, dengan mempertaruhkan segalanya. Materi, pikiran, tenaga, kegelisahan, kegalauan, keresahan, kekhawatiran, dan kesedihan, mereka tebus untuk sebuah kebahagian anak-anaknya.
Bapak sudah lama sakit gula. Saya tidak terlalu memperhatikan sebelumnya, bahkan tak pernah tahu pasti jadual check-up beliau ke dokter, atau, apa saja obat-obatan yang beliau perlukan. Semuanya termasuk biaya masih mereka yang tanggung, dan tak pernah ingin merepotkan anak-anaknya.
Hingga awal tahun ini, saya menyadari. Inilah saatnya saya mengambil alih peran. Bapak, Ibu, mereka berdua sudah tua, sudah lemah, sudah waktunya mendapatkan perhatian dan kasih sayang kami. Ketika Bapak Stroke, merupakan tamparan bagi saya, untuk melupakan keegoisan, dan mencurahkan semua perhatian dan materi untuk mereka.
Saya belum kesampaian membeli sebuah City Car, atau bahkan Motor Sport yang tiap hari muncul di wallpaper laptop saya. Namun saya bersyukur dapat membantu biaya berobat beliau dan memberikan mereka ketenangan, karena anak-anaknya bisa diandalkan. Saya merelakan City Car saya berganti biaya obat, dokter dan terapi.
Alhamdulillah Bapak sudah pulih dari Stroke, namun harus tetap menjaga kesehatan. Namun jika seperti hari ini, dapat kabar beliau kambuh sesak nafas dan kejang-kejangnya, hati saya mendidih, ingin membawanya ke sebuah rumah sakit yang terbaik, termahal, di luar negeri sekalipun, demi kesehatannya.
Itulah motivasi terbesar saya, untuk tetap bekerja keras, mengais sedikit demi sedikit rupiah dan dolar, online hampir 20 jam setiap hari, siang jadi malam, dan malam jadi siang, disela kesulitan-kesulitan, untuk menebus kasih sayang mereka, kedua orang tua saya.
Kawan, apa motivasi terbesar anda saat ini? Silahkan berbagi.

















[...] Hampir sebulan lebih saya lewati janji untuk memposting Seri Movie Site, yaitu Membuat Autoblog Movie dengan JSON API Request dan Monetisasi Blog Movie Review dengan CPA Affiliatebuzz. Kebetulan ada keperluan keluarga yaitu meninggalnya kakek di kampung dan bapak yang kembali sakit. [...]
[...] satu pelajaran dari kehilangan karena ditinggalkan Bapak saya bulan lalu, saya jadi tersadar akan penting dan sangat berartinya Ibu saya yang masih ada saat [...]